Penyanyi dan penulis lagu asal Inggris, Olivia Dean, berhasil mencetak sejarah manis dengan memenangkan Grammy Award pertamanya untuk kategori Best New Artist. Dalam ajang yang digelar di Crypto.com Arena, Los Angeles, Dean memanfaatkan momen kemenangannya untuk menyampaikan pesan yang sangat personal dan menyentuh mengenai latar belakang keluarganya.

Sebagai nomine yang baru pertama kali masuk daftar, Dean naik ke panggung dengan penuh haru. Dalam pidato penerimaannya, ia mendedikasikan penghargaan tersebut bagi kaum imigran. Ia menegaskan posisinya sebagai “cucu dari seorang imigran” dan menyebut dirinya adalah “produk dari sebuah keberanian”. Baginya, kelompok masyarakat tersebut sangat layak untuk dirayakan. Tak lupa, Dean juga mengucapkan terima kasih kepada Emily Braham, manajer sekaligus sahabatnya selama 10 tahun terakhir, dengan menekankan bahwa seorang seniman tidak akan berarti apa-apa tanpa tim yang solid di belakangnya. Piala bergengsi ini diserahkan langsung oleh Chappell Roan, pemenang kategori yang sama pada Grammy ke-67 tahun 2025 lalu.

Panggung Spektakuler Para Nomine

Sebelum pengumuman pemenang dibacakan, panggung Grammy dimeriahkan oleh penampilan maraton dari kedelapan nomine Best New Artist, termasuk Dean, Katseye, Lola Young, Addison Rae, Alex Warren, Leon Thomas, Sombr, dan The Marías. Olivia Dean tampil memukau membawakan “Man I Need”, lagu yang berhasil menembus 10 besar tangga lagu AS dan menjadi pemuncak tangga lagu di Inggris. Dibalut gaun merah berkilau, ia tampil enerjik bersama tujuh anggota band pengiringnya.

Estafet penampilan dimulai oleh The Marías yang membawakan “No One Noticed” dengan nuansa syahdu di bawah sorotan lampu biru, membuat musisi sekelas Billie Eilish ikut bergoyang. Suasana berubah menjadi lebih teatrikal saat Addison Rae membawakan “Fame Is A Gun” yang dimulai dari belakang sebuah van putih, sebelum akhirnya memamerkan koreografi lincah bersama penari latar. Tak kalah memukau, grup vokal Katseye menghadirkan energi hyperpop lewat lagu “Gnarly” dengan visual layar yang sinkron dan tarian yang presisi.

Di sisi lain, Leon Thomas—yang sebenarnya sudah pernah mencicipi kemenangan Grammy pada 2024 sebagai penulis lagu “Snooze” milik SZA—menunjukkan kepiawaiannya bermain gitar lewat lagu “Mutt”. Penampilannya ditutup dengan solo gitar yang membuat penonton berdiri memberikan apresiasi. Meski Alex Warren sempat mengalami kendala teknis pada earpiece saat membawakan “Ordinary”, ia berhasil menguasai keadaan dan menutup penampilannya di atas platform yang meninggi. Rangkaian pertunjukan ini juga diisi oleh Lola Young yang tampil minimalis namun vokal lewat “Messy”, serta aksi interaktif Sombr yang turun panggung membelah kerumunan saat menyanyikan “12 to 12”.

Nostalgia Musik Indonesia: Killing Me Inside dan Luna Maya

Sementara dunia merayakan bintang-bintang baru, kancah musik Indonesia memiliki jejak nostalgianya sendiri yang menarik untuk dikulik kembali. Salah satu kolaborasi yang pernah mewarnai industri musik Tanah Air adalah lagu berjudul “Biarlah” dari grup musik Killing Me Inside. Lagu ini menjadi unik karena menggandeng aktris Luna Maya sebagai kolaborator vokal, memberikan warna berbeda pada aransemen musik band tersebut.

Tembang “Biarlah” dirilis melalui album Selftitled milik Killing Me Inside dan juga turut dimuat dalam album Luna Maya yang bertajuk Perjalanan. Lagu ini menceritakan tentang keikhlasan melepaskan seseorang yang sudah tidak sejalan, sebuah tema yang selalu relevan bagi pendengar musik pop-rock Indonesia.

Bagi Anda yang ingin bernostalgia dan memainkan kembali lagu ini, berikut adalah lirik dan susunan chord gitar lagu “Biarlah”. Lagu ini dimainkan dengan nada dasar minor yang kental dengan nuansa emosional, sebelum akhirnya mengalami modulasi (naik nada dasar) di bagian akhir lagu yang menambah klimaks cerita.

Intro & Verse: Lagu dibuka dengan progresi Cm yang melankolis.

Cm Gm G# Semua yang berlalu G# tlah menjadi kenangan Cm Gm G# dan seakan kulupakan A# karena ku tak sejalan

Pre-Chorus: Cm Gm G# A#

Chorus: Cm Gm Dan tak mungkin G# ku bertahan G# meski telah ku coba Cm Gm G# semuanya tak berguna A# terbuang sia sia…

Verse 2: D# G# Cm Dirimu di hatiku A# sudah terlalu lama D# G# Cm Biarlah Ku mencoba A# Untuk tinggalkan semua

Chorus (Ulangan): Cm Gm G# A# Cm Gm Dan tak mungkin G# ku bertahan G# meski telah ku coba Cm Gm G# semuanya tak berguna A# terbuang sia sia

Bridge & Refrain: D# G# Cm Dirimu di hatiku A# sudah terlalu lama D# G# Cm Biarlah Ku mencoba A# Untuk tinggalkan semua G# Cm G# A#

Outro (Modulasi/Overtune): Bagian ini menaikkan nada dasar untuk memberikan penekanan emosi di akhir lagu.

D# G# Cm Dirimu di hatiku A# sudah terlalu lama D# G# Cm Biarlah Ku mencoba A# Untuk tinggalkan semua

(Naik nada ke F#) F# B D#m Dirimu di hatiku C# sudah terlalu lama F# B D#m Biarlah Ku mencoba C# Untuk tinggalkan semua